Minggu, 02 November 2014

PESONA JONG BAYAN


Kain Tenun penuh makna...


Mengunakan Pakaian Adat Bayan memberikan kesan tersendiri bagi setiap pemakainya,kain Bayan terbuat dari benang yang ditenun dengan tangan-tangan trampil para perempuan Bayan memintal benang helai demi helai  teliti dan penuh kecintaan menghasilkan kain berbagai corak warna-warni bagaikan bunga di taman sari menjadi perlambang identitas kebanggaan  Masyarakat  Bayan.

Jumat, 31 Oktober 2014

SISTEM KEBUDAYAAN BAYAN

Setiap negara memiliki dasar-dasar negara dan sistem-sistem pemerintahan biasanya merupakan filosofi dasar terbentuknya suatu negara atau kerajaan, filosofi dan nilai-nilai merupakan pemikiran dari para pendiri suatu bangsa atau sebuah kerajaan, diletakkan sebagai pondasi kebangsaan seperti terdapat di Negara Indonesia yaitu menganut sistem Presidensil dengan lambang Negara Garuda pancasila dan mempunyai undang-undang Dasar yaitu UUD 45 serta Demokrasi sebagai sistem pengambilan keputusan dalam memilih pemimpin dan pemikiran-pemikiran tersebut lebih dikenal dengan 4 (empat) pilar kebangsaan yaitu NKRI,PANCASILA,UUD 45 dan BHINEKA TUNGGAL IKA.

Senin, 23 September 2013

Menelusuri Sejarah Mata Air Hutan Mandala

Lombok Utara - Mandala merupakan sebuah nama dusun yang terletak di Desa Bayan Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Kata Mandala menurut beberapa tokoh adat setempat, berasal dari kata Man yang berarti 'pemberian' ditambah dengan kata Dala yang berarti pemberian Tuhan Yang Maha Esa.

Komunitas Adat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam

Salah satu Prosesi Adat di masjid kuno Bayan
Lombok Utara - Komunitas masyarakat adat oleh kebanyakan orang dipahami sebatas hak kebudayaan, tradisi atau adat-istiadat. Meski cara pandang itu tidak sepenuhnya salah, namun cara pandang itu cenderung distorsif. Padahal berbicara tentang masyarakat adat terkait dengan hak kebudayaan dan hak pengelolaan atas Sumber Daya Alam (SDA), terutama tanah, termasuk pemerintahan lembaga adat. Ada lebih ekstrim, masyarakat adat dianggap tidak ada lagi.

Rabu, 18 September 2013

SEJARAH BAYAN


Pada zaman dahulu sekitar Bayan dipimpin oleh seorang Raja atau disebut Datu Bayan bergelar Susuhunan Ratu Mas Bayan Agung, silsilah menyebut bahwa Raja Bayan bersaudara  dengan tidak kurang dari 18 orang  dari hasil  perkawinan Raja sebelumnya  dengan beberapa istri dan selir, saudara-saudara Raja Bayan  kemudian menyebar ke seluruh pulau Lombok dan hingga kini beranak pinak. Sejarah mencatat dari hasil perkawinan Raja Bayan dengan istri pertamanya mempunyai dua orang putra bergelar Pangeran Mas mutering langit dan Pangeran Mas mutering gumi kedua pangeran inilah yang kemudian meneruskan memerintah dan berkuasa di kerajaan Bayan.

FILOSOFI WETU TELU BAYAN

Awal mula muncul istilah wettu telu di kenal luas oleh publik adalah muncul dari buku Dr.J.Vvan Ball yang ditulis pada tahun 1940  dan diterjemahkan pada pada tahun 1979 oleh Koencaraningrat yang berjudul Pesta Alip di Bayan, pesta Alip sendiri adalah Acara Adat yang dilaksanakan 8 tahun sekali yang bertujuan untuk memelihara keberadaan makam peninggalan para leluhur di Bayan dikomplek makam di mesjid kuno Bayan. Dalam buku yang ditulis J.Van Ball pada tahun 1940 tersebut mengambarkan keadaan Bayan yang masih asli, masih mencerminkan suatu kondisi dimana islam dipahami sesuai dengan apa yang pertama kali dipahami dan diajarkan kepada para leluhur-leluhur orang bayan disebutkan pula bahwa islam berkembang di Bayan dan baru kemudian sistem baru terbentuk setelah kemerdekaan Republik Indonesia menggambarkan munculnya islam modern.

Rabu, 04 September 2013

PRO KONTRA SUKU BAYAN DI LOMBOK

Selain dikenal sebagai negara perairan dan kepulauan, Indonesia dikenal juga dengan keberagaman suku bangsa, agama, etnis dan lainya, masyarakat  bersatu dalam konsep kebersamaan sebagai sebuah Negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbinekha tunggal ika. Keberadaan sekitar lima ratusan suku bangsa yang tersebar dan terdaftar dimasing-masing provinsi menjadikan Indonesia kaya dengan khasanah budaya bangsa akan tetapi tidak jarang juga merupakan suatu potensi konflik yang dapat setiap saat  meletup manakala bangsa, rakyat indonesia tidak mampu menjaga toleransi antara warga,agama,suku,etnis dan lain sebagainya.