Jumat, 31 Oktober 2014

SISTEM KEBUDAYAAN BAYAN

Setiap negara memiliki dasar-dasar negara dan sistem-sistem pemerintahan biasanya merupakan filosofi dasar terbentuknya suatu negara atau kerajaan, filosofi dan nilai-nilai merupakan pemikiran dari para pendiri suatu bangsa atau sebuah kerajaan, diletakkan sebagai pondasi kebangsaan seperti terdapat di Negara Indonesia yaitu menganut sistem Presidensil dengan lambang Negara Garuda pancasila dan mempunyai undang-undang Dasar yaitu UUD 45 serta Demokrasi sebagai sistem pengambilan keputusan dalam memilih pemimpin dan pemikiran-pemikiran tersebut lebih dikenal dengan 4 (empat) pilar kebangsaan yaitu NKRI,PANCASILA,UUD 45 dan BHINEKA TUNGGAL IKA.

 
Al Qur’an sebagai pedoman Umat Islam juga sebagai pedoman yang utama masyarakat Bayan, ayat-ayat suci Al-Qur’an senantiasa terdengar dari do’a-do’a para kiayi. Kitab Suci Al-Qur’an jika tidak sedang dibaca selalu diletakan di ketinggian seperti di Inan Bale atau di langit-langit berugak menunjukkan betapa Agungnya wahyu yang di turunkan oleh ALLAH SWT kepada Baginda Nabi Muhammad SAW tersebut sehingga merupakan pedoman utama orang bayan. Ada Pula isi kandungan Al-Qur’an disalin dalam lontar –lontar seperti hikayat nabi,tapel adam dan lainya di bayan.
Meskipun tidak sekomplek dan selengkap Negara Republik indonesia, dalam kehidupan masyarakat bayan terdapat pula nilai-nilai seperti wetu telu dan berlaku pula awiq-awiq yang mengatur berbagai hal terkait dengan kehidupan masyarakat bayan diantaranya awiq-awiq/hukum adat yang mengatur masalah lingkungan seperti hutan adat, awiq-awiq yang mengatur kehidupan sosial misalkan sanksi-sanksi adat yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia lainya.
Selain itu kearifan-kearifan lokal yang terlahir dari pengalaman panjang berbudaya masyarakat bayan misalkan konsep pemalik yang walaupun tidak mendapat sangsi secara langsung, akan tetapi masih diyakini akan mendapatkan balasan dikemudian hari sehingga keberadaan kearifan kearifan ini melekat erat dan tumbuh berdasarkan kesadaran masing-masing individu bukan atas dasar keterpaksaan seeorang untuk taat dikarenakan ada sangsi saja yang mengikatnya. Beberapa pemalik yang dapat kita jumpai misalkan pemalik apabila mendahului menikmati hidangan sebelum waktunya,pemalik apabila memanjat pohon lekong/kenari,pemalik apabila mengambil bambu pada bulan-bulan manis yang kesemuanya itu ada maksud didalamnya,itulah yang kemudian disebut sebagai kearifan lokal.
Dalam memilih para pemimpin orang bayan mengenal sistem Gundem berdasarkan prusa atau garis keturunan (garis partilinier), yaitu kombinasi antara musyawarah mufakat dengan garis amanah (partilinier) yang merupakan tangung jawab keturunan tertentu.
Masing-masing mempunyai prusa sebutan terhadap garis keturunan tertentu dan antara prusa yang satu dengan yang lainya tidak boleh mengambil atau melangkahi menjabat satu jabatan adat karena Prusa merupakan hak dan kewajiban keturunan tertentu, hak atas fasilitas-fasilitas adat seperti rumah kedinasan ataupun tanah pecatu bagi mereka yang aktif. Selain mendapat hak para pengemban Adat berkewajiban melaksanakan amanah yang diberikan. sistem prusa ini merupakan serangkaian sistem membentuk satu kesatuan saling mengisi satu prusa dengan prusa yang lainya sehingga apabila salah satunya tidak berfungsi maka, keseluruhan sistem akan juga tidak berfungsi.
Terdapat banyak pilihan prusa dalam satu garis keturunan hanya satu pejabat dari keturunan mereka yang dibutuhkan utuk mengisi jabatan tertentu bukan berarti memilih mereka mudah karena ada syarat dan prasarat yang harus dipenuhi dan apabila terpilih kepada mereka selain jabatan biasanya dibarengi dengan pemberian pecatu/tanah adat adalah sebagai penghasilan mereka untuk memenuhi kebutuhan selama menjadi pengemban adat.
Kehidupan orang bayan sejak ia dilahirkan sampai kematian merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari maka, pada setiap acara adat yang merupakan pemenuhan dari salah satu kewajiban bermasyarakat menurut islam wajib untuk di penuhi oleh karenanya selalu ada cara/ adat berkenaan dengan diri seseorang dari lahir,potong rambut,khitan,perkawinan sampai kematian.
Selain Acara-acara adat yang berkenaan dengan siklus kehidupan individu orang bayan juga melaksanakan acara adat yang berkaitan dengan pertanian dan perkebunan mulai dari bagaimana mereka melaksanakan acara-acara adat di mata air didalam hutan adat,membagar,bercocok tanam,padi mulai berbuah sampai pada padi di panen hingga disimpan dilumbung semua ada acara adatnya,semua harus mendapatkan do’a selamat dari para kiayi.
Acara-Acara hari besar keagamaan juga dilaksanakan sepanjang tahun seperti maulid,Idul fitri,idul adha dan acara agama islam lainya juga dilaksanakan secara tradisional menurut adat istiadat yang diwariskan secara turun temurun sehingga ketika dibandingkan dengan acara-acara keagamaan yang umum kita saksikan saat ini mungkin akan terheran-heran melihat praktek islam tradisional yang ada di bayan.
Karena Bayan dulunya adalah pusat kerajaan islam tertua dilombok maka, berkaitan dengan keberadaanya sebagai pusat pemerintahan dan atau sekarang sebagai pusat budaya Bayan sering sekali dilaksanakan acara-acara kenegaraan seperti Gawe Alip,Gawe Lohor.Gawe Beleq dan Acara-acara yang melibatkan keseluruhan dari masyarakat adat tanpa terkecuali.
Memahami struktur atau lembaga adat bayan yang mengatur sistem budaya di bayan sangat sederhana karena apapun yang dilaksanakan oleh orang bayan sebelum dirampungkan oleh do,a kiayi atau mereka menyebutnya do’a slamet maka, apapun acara adat yang dilaksanakan belum dianggap sah atau slamet sehingga peran kiayi sangat vital dan islam atau slam kemudian dipahami sebagai penyempurna. Dari pemahanman sederhana inilah berkembang kemudian menempatkan para kiayi sebagai bagian pegemban utama adat bayan bersamaan dengan fungsi pemangku bayan timur yang memberikan mandat kepada para kiayi.
Sejarah yang terbentuk beratus-ratus tahun lamanya di bayan mengambarkan pola hubungan yang dibentuk dan model kelembagaan yang diterapkan di bayan. Dalam sejarah disebutkan bahwa Pangeran Mas mutering Langit yang berkedudukan di bayan timur adalah memegang mandat lembaga yang berhubungan dengan hubungan vertikal maka dibayan timur pula kemudian sebagai pengemban utama tata kelola lembaga secara keseluruhan. Di bayan timur terdapat kampu tempat tinggal pemangku dan pembekel beleq merekalah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan lembaga secara keseluruhan. Karena urusan bayan timur adalah urusan yang mengatur hubungan dengan sang pecipta maka, pemangku bayan timur dapat menetapkan kiayi kagungan yaitu pemimpin dari para kiayi yang bertugas melayani orang bayan yang berhubungan dengan acara-acara selamatan baik urip atau acara-acara yang berhubungan dengan kehidupan maupun pati yaitu acara acara yang berhubungan dengan kematian.
Kagungan Kiayi atau tanda jabatan pemimpin para kiayi yang terdiri dari kiayi pengulu,kiayi ketib,kiayi mudim dan kiayi lebe diberikan melalui prosesi adat dan untuk memegang jabatan-jabatan tersebut mereka diikat oleh satu hukum dan ketentuan yang tidak bisa membuat mereka terlalu bebas bergaul dan beraktifitas, mereka harus mematuhi hal-hal atau etika yang telah ditetapkan karena menjadi pembeda masyakat biasa dengan pengemban-pengemban utama atau prusa utama adat Bayan.
Proses seleksi dan kepatutan seorang pengemban seperti para kiayi kagungan tidak sembarangan disamping mereka harus layak dan merupakan prusa, prusa adalah garis keturunan, Gundem mutlak harus dilakukan dalam rangka uji publik kelayakan mereka, proses yang panjang ini menunjukan betapa pentingnya suatu jabatan sehingga perlu untuk diperketat.
Bagi mereka yang telah menjabat kepada mereka diberikan tanah pecatu yaitu beberapa petak sawah yang ukuranya sesuai degan ukuran ekonomi masyarakat bayan dan tercukupi untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Dari hasil sawah tersebut sebagianya disisihkan untuk penyelenggaraan adat istiadat yang berllangsung dikediaman para kiayi kagungan dan pengasilan tambahan mereka,mereka terima dari jasa mereka melayani masyakat bayan seperti jasa karena telah memimpin acara-acara selamatan dan untuk ukuran ekonomi atau penghasilan orang bayan dari hasil sawah dan tambahan penghasilan dari jasa-jasa tersebut cukup sepadan.
Kiayi kagungan berjumlah empat orang yaitu Kiayi Pengulu,Kiyai ketib,Kiayi mudim dan kiayi lebe. Kiayi kagungan dalam menjalankan tugasnya pada wilayah kerja yang cukup luas tersebut dibantu oleh para kiayi santri adalah para bawahan atau murid para kiayi kagungan, kiayi santri mempunyai fungsi yang sama dengan kiayi kagungan yaitu melayani orang bayan yang membedakan adalah mereka para kiayi kagungan diangkat dan dikukuhkan oleh pengemban utama adat bayan dan kemudian diberikan tanah pecatu dan dilengkapi dengan rumah2 kedinasan sementara para kiayi santri merupakan bawahan-bawahan mereka.
Pada acara-acara kematian/pati biasanya para kiayi mendapat jasa yang sedikit lebih besar karena dari sejak kematian hingga tujuh hari seseorang meninggal jasa mereka tetap dipergunakan. Slawat adalah sebutan materi yang diserahkan oleh keluarga Almarhum atas jasa para kiayi yang membantu terlaksananya gawe pati.Slawat berupa perlengkapan rumah tangga seperti perabot dapur,kasur,pakaean aneka makanan dan lainya. Pada acara gawe pati apabila dalam salah satu rangkaian acaranya salah seorang kiayi kagungan tidak dapat menghadiri acara tersebut dapat mewakilkan kepada kiayi yang lainya karena dalam acara gawe pati dibutuhkan lebih dari satu kiayi untuk mengikuti proses acara tersebut sampai berakhirnya acara tersebut.
Dalam menjalankan tugasnya pengemban/prusa utama dibantu oleh Pembekel loloan dan pengemban adat lainya seperti inan pedangan dan lainya, loloan mempunyai peranan yang sangat vital dan menentukan berhasil atau sukses tidaknya penyelenggaraan adat gama karena urusan ini hanya boleh dikerjakan oleh para prusa yang berasal dari loloan. Selain loloan dibantu juga dengan ruak bangket, dan sembagek yang masing-masing para prusa terdapat di desa sukadana saat ini.
Pangeran mas mutering Gumi yang berkedudukan di Bayan Barat memegang mandat mengurus lembaga yang berkaitan dengan adat luir gama adalah pelaksanaan adat yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Dalam menjalankan mandat ini pangeran mas mutering gumi dibantu oleh titi mas puncan surya yang berada di karang bajo, pelaksanaan adat luir gama dikoordinir oleh lokaq karang bajo dan pengemban adat lainya yang berada dikarang bajo. Toaq lokaq yang terdapat di karang bajo mempunyai peranan yang penting dalam penyelengaraan adat luir gama peran mereka sama dengan loloan pada adat gama, segala hal yang berkaitan dengan pennyelenggaraan adat luir gama dikelola dan di kendalikan di karang bajo, walaupun Bayan barat pengemban adat luir gama tetapi dalam penyelengaraan dan persiapan termasuk sukses terselenggaranya acara tergantung pada karang bajo. Di Bayan barat selain pemangkunya terdapat juga pejabat lain seperti pembekel dan lokaq plawangan yang berperan mengurus persiapan pelaksanaan acara-acara adat di bayan.
Hubungan antara adat gama dan luir gama ini bagaikan dua sisi mata uang yaitu sama-sama saling membutuhkan Adat Luir gama merupakan adat-istiadat yang berhubungan dengan dunia atau keduniaan sementara adat gama berhubungan dengan urusan-urusan akhirat dan pada acara-acara tersebut keberadaan peran seorang kiayi sangat dibutuhka sebagai penutup dengan pembacaan do’a-do’a menjadi penyempurna acara-acara yang dilaksanakan. Pola ini menunjukkan menempatkan kiayi sebagai penyempurna adalah menempatkan mereka di struktur yang lebih tinggi dari pengemban adat lainya dan Pemangku bayan timurlah yang berhak memberikan jabatan tersebut maka, dapat dipahami kemudian bahwa bayan timurlah pengemban utama adat bayan. Pembagian kewenangan ini sering disebut hubungan saling membutuhkan,hubungan saling tidak mencampuri urusan yang satu dengan yang lainya, bagaikan hubungan suami istri yang saling melengkapi.
Pada setiap Gubuk terdapat Bale beleq atau kampu yang merupakan tempat bertemunya para keluarga sesuai dengan prusa masing-masing, ditempat inilah bila terdapat acara-acara adat berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatunya secara bersama-sama. Lembaga adat yang lebih besar ditopang oleh keberadaan bele-bale beleq dan makam-makam para leluhur yang ada di bayan.
Lembaga-lembaga yang berifat ad-hoc juga dibentuk semacam kepanitiaan untuk mensukseskan acara atau gawe tertentu pada gawe urip disebut antara lain aman jangan,inan nasik atau inan pedagan dan lainya adalah mereka yang mengurus ketersediaan Nasi atau lauk pauk di acara gawe mereka untuk jasanya diberikan beberas dan gegantir yaitu berupa beras,benang uang dan sekitar ¼ kg daging dari sapi atau kerbau yang disemblih pada waktu acara.
Semua hal yang berkaitan dengan acara-acara adat pasti mempunyai pengemban yang ditunjuk sesuai dengan prusa masing masing, adanya jasa yang diberikan kepada mereka merupakan satu upaya secara langsung atau tidak langsung mendukung keberlangsungan dan suksesnya acara dimaksud, hal ini semacam lingkaran jasa yang dibangun dalam kebudayaan bayan maka, ketika lingkaran jas ini tidak berjalan berarti bahwa pelaksanaan acara-acara adat inipun juga akan hilang dan sementara acara-acara adat ini merupakan istrumen yang dapat menunjukkan keberadaan dan eksisitensi keberadaan adat sehingga hilangnya lingkaran adat menyebabkan hilangnya salah satu yang memperkuat tatanan adat itu sendiri, selain acara-acara terdapat pula nilai-nilai yang bersamaan dengan lahirnya budaya tersebut termasuk juga peninggalan-peninggalan bersejarah
Untuk acara-acara yang berhubungan dengan pertanian cukup hanya dipimpin oleh para kiayi tetapi untuk acara yang berhubungan dengan pembukaan lahan baru atau disebut membagar pengembannya disebut walin gumi. Lembaga adat yang bersifat ad-hoc ini juga dapat dibedakan dari acara adat apa yang dilaksanakan misalnya sidekah gumi atau teklauk tekdaya pengembannya terdiri dari Lokaq gantungan Robong,Lokaq Juru Basa berasal dari sukadana, walin Gumi, pemomong yang berasal dari senaru dan pembekel karang bajo sebagai pengendali pelaksanaan acara tersebut. Setelah prosesi ini selesai maka, karang bajo menyampaikan ulak kaya berupa berbagai hasil bumi ke bayan timur untuk kemudian dilaksanakan.. ngaji lohor yaitu acara besar-besaran yang dilaksanakan dengan mengundang seluruh kiayi untuk memanjatkan do’a-do’a di mesjid kuno bayan.
Termasuk acara-acara yang dilaksanakan di bayan timur juga pengembannya berjenjang mulai dari Pembekel, para prusa dari loloan,ruak bangket dan sembagek menjadi penyelenggara termasuk inan pedangan yang juga berperan penting.
Selain sejarah yang mencerminkan kelembagaan juga ritual-ritual yang dilaksakan secara berjenjang ini menggambarkan peran dan fungsi para prusa dan bagaimana para prusa mengkoordinir keluarga besar mereka untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan adat istiadat, keterkaitan yang saling mengikat disertai dengan lingkaran jasa yang dibangun merupakan gambaran tentang lembaga adat bayan. Prinsip saling membutuhkan satu dengan lainya terkadang dapat melepas ego masing-masing prusa bahwa adat istiadat bayan tidak dapat dikerjakan sendiri dan sukses oleh satu orang karena masing-masing sudah ada kedudukan,fungsi dan tanggung jawabnya yang tenntu saja tidak boleh saling melangkahi dan semua harus melaui urutannya sehingga tidak boleh saling mendahulaui seperti itulah budaya mengajarkan kepada masyarakat bayan.
Lembaga adat yang berkedudukan di bayan merupakan lembaga sentral, artinya bahwa lembaga yang disebut pengemban utama ini karena strukturnya lebih komplek dibanding lembaga yang berada dibawahnya yaitu yang berada dimasing-masing tempat seperti di semokan,anyar dan desa beleq,sesait,salut dan sekitarnya. Tempat-tempat tersebut diberikan otonomi karena tidak harus mereka ikut penyelenggaraan adat istiadat di bayan termasuk terhadap sistem jasa seperti hasil bumi yang harus diserahkan di bayan,cukup pada acara-acara besar (acara kenegaraan) tertentu saja mereka para prusa bisa mengikuti acara-acara tersebut seperti Gawe lohor,Gawe alip,tilawat dan sebagainya yang terpusat di bayaan timur. Ditempat seperti semokan juga sudah terdapat para kiayi yang di perbantukan untuk melanyani kebutuhan-kebutuhan keagamaan ditempat tersebut.
Bentuk pengelolaan hutan adat dapat kita jumpai di beberapa tempat seperti di bangket bayan,Pawang Mandala,Sembagek, Semokan dan montong gdeng. Pada bangket/sawah Bayan merupakan sawah yang diyakini pertama di buka bayan. Di bangket bayan terdapat pecatu yang diperuntukan untuk pengemban adat bayan untuk memenuhi kebutuhan mereka selama menjabat. Ada beberapa pejabat yang berkaitan dengan hutan bangket bayan yang pertama adalah pengangkatan penjaga hutan atau disebut perumbag dan penyanding dilaksakan di karang bajo ditetapkankan dan diangkat oleh lokaq gantungan rombong karang bajo karena pelaksana berjenjang adat luir gama adalah karang bajo dan pengemban utama adat luir gama sendiri adalah bayan barat.sementara dalam mengawasi tugas-tugas perumbag dan penyanding diawasi oleh lokaq bual dan nangka rempek.
Struktur yang sederhana tetapi mencakup segala aspek sosial budaya yang berkembang di bayan, sederhana tetapi merupakan suatu kebutuhan Dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar