Rabu, 18 September 2013

FILOSOFI WETU TELU BAYAN

Awal mula muncul istilah wettu telu di kenal luas oleh publik adalah muncul dari buku Dr.J.Vvan Ball yang ditulis pada tahun 1940  dan diterjemahkan pada pada tahun 1979 oleh Koencaraningrat yang berjudul Pesta Alip di Bayan, pesta Alip sendiri adalah Acara Adat yang dilaksanakan 8 tahun sekali yang bertujuan untuk memelihara keberadaan makam peninggalan para leluhur di Bayan dikomplek makam di mesjid kuno Bayan. Dalam buku yang ditulis J.Van Ball pada tahun 1940 tersebut mengambarkan keadaan Bayan yang masih asli, masih mencerminkan suatu kondisi dimana islam dipahami sesuai dengan apa yang pertama kali dipahami dan diajarkan kepada para leluhur-leluhur orang bayan disebutkan pula bahwa islam berkembang di Bayan dan baru kemudian sistem baru terbentuk setelah kemerdekaan Republik Indonesia menggambarkan munculnya islam modern.


Islam berkembang Pesat di Bayan sekitar abad 16 di bawa oleh para mubaliq yang berdagang dan berlabuh di labuan carik dan kemudian raja Bayan menerima islam sebagai agama kerajaan pada saat itu dan keberadaan makam di komplek mesjid kuno dan sekitarnya sebagai bukti yang kuat keberadaan islam di Bayan. Dr.J.Van Ball menyatakan bahwa Agama leluhur satu satunya yang dimiliki oleh masyarakat Bayan Adalah Islam Wetu telu tidak dijelaskan kemudian apa arti atau makna wetu telu tersebut menurut informasi yang diterima ketika itu atau menurut pandangan orang Bayan, pernyataan tersebut kemudian memunculkan tafsir yang beragam dan pada setiap hitungan atau akumulasi angka yang berhubungan dengan angka 3(tiga) kemudian ditafsirkan sebagai arti atau makna dari wetu telu itu sendiri.angka tiga sering muncul pada pelaksanaan ritual-ritual dibayan seperti melafalkan bacaan sholat atau do’a-do’a dan praktek-praktek adat istiadat lainya. Istilah wetu telu  dilekatkan juga pada masyakat pulau lombok pada umumnya seperti yang terdapat di lingsar narmada dan sekitarnya yang masih memegang teguh tradisi leluhur sampai istilah ini mengerucut pada Bayan yang memang masih kental menjalankan praktek –praktek tradisional  dan akhirnya Bayan ditafsirkan sebagai pusat islam wetu telu karena istilah ini pertama muncul di Bayan.
Istilah Wetu tidak terdapat dalam kosa kata bahasa bayan, karena islam berasal dari Pulau jawa maka, wetu sering disama artikan dengan Metu yang dalam bahasa jawanya berarti muncul atau keluar sedangkan telu sendiri dalam bahasa Bayan berarti tiga sehingga pengabungan dari dua suku kata tersebut yaitu metu telu atau wetu telu berarti muncul dari tiga hal. 
PERSEPSI KELIRU
Ada beberapa persepsi yang muncul semenjak wetu telu ini dikenal publik, persepsi ini terus menerus bergulir tanpa ada sangahan dari pihak yang berkopeten di bayan serta tidak adanya argumen ilmiah dan kuat sehingga masyarakat umumnya menafsirkan sendiri sekehendak hatinya.
Keingin tahuan masyarakat pada umumya atau peneliti tentang Wettu telu tidak dibarengi dengan pemahaman yang sama dan menyeluruh terhadap wetu telu karena kesulitannya memang istilah ini dianggab tabu yang bukan sembarangan untuk diajarkan dan disampaikan sehingga akibatnya setiap orang atau masyarakat adat bayan ketika ditanya tentang wettu telu pasti jawabannya beragam.
Istilah ini adalah istilah yang kontroversi istilah yang ada kemiripannya dengan filosofi agama-gama antara lain Hindu dengan Trihita karana Budha dengan Tri Sucinya dan Kristen dengan Triasnya sehingga dari sisi semua agama sepertinya wetu telu itu ada keiripan dengan keyakinan agama-agama tersebut. Trihita karane yang dalam pemahaman hidup masyarakat hindu adalah keseimbangan hubungan antara manusia dengan manusia,manusia dengan lingkungannya dan manusia dengan tuhanya tetapi Trihitakarana itu tidak sama maknanya  dengan wettu telu sesuai pemahaman orang Bayan meskipun memang diatur hubungan antara manusia dengan Tuhanya,Manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya, busana tradisional yang dipergunakan sama atau mirip dengan pakaian orang hindu di dari pulau bali terkadang memberikan pemahaman seolah-olah mereka orang bayan adalah orang hindu juga pandangan yang keliru karena tren busana pada waktu itu tidak hanya dipergunakan di bali tetapi juga di sebagian besar pulau lombok sehingga ketika islam masuk busana tersebut tidak dirubah tetapi disesuaikan dengan kepatutan cara berbusana orang islam seperti dengan mengunakan pakaian tersebut asalkan syaratnya menutup aurat.
Wetu telu juga sering diasumsikan penggabungan  keyakinan Buda,hindu dan islam dan animisme dalam sejarah tidak jelas memang tentang agama apa yang dianut oleh masyarakat bayan sebelum masuknya islam, ada yang meyakini agama budha adalah agama yang dianut orang bayan, keberadaan situs bon gontor mirip patung budha dan adanya persebaran komunitas bodha di gangga,pemenang dan sekitarnya dapat menjadi bukti sementara dan perlu diteliti lebih jauh kebenarannya dan pengaruh agama hindu terakhir masuk pada penguasaan sebagian wilayah lombok oleh anak agung karang asem berkedudukan di cakra mataram dan secara umum dapat dijumpai pula nama majapahit yang dilekatkan pada salah satu sumur yang berada di desa sambik elen menunjukkan ada pengaruh kerajaan majapahit sebagai kerajaan yang berpengaruh di jawa dwipa dan nusantara. pada praktek keagamaan yang dijalankan secara tradisional banyak sekali terdapat praktek-praktek non muslim yang diwariskan oleh leluhur yang berhubungan dengan agama-agama tertentu seperti pada pelaksananaan Sidekah Gumi,membangar,potong gigi dan sebagainya tetapi selalu pada akhir acara-acara Adat tersebut ditutup oleh do’a-do’a kiai yang diyakini sebagai penyempurna pada setiap acara-acara adat. Sementara praktek islam yang dijalankan sedikit berbeda dengan yang dijalankan oleh kebanyakan orang islam di indonesia tetapi secara pemaknaan itu sama seperti yang dipahami oleh umat islam sehingga perlu di luruskan bahwa  wettu telu itu bukan percampuran tiga agama Budha,hindu dan islam walaupun perjalanan sejarah yang membentuk kebudayaan bayan saat ini banyak dipengaruhi oleh masa-masa animism,budism,hinduism dan muslim. tidak benar suku Bayan itu kiblatnya gunung rinjani dan tidak benar bahwa islam wetu telu itu meyakini tuhan lain selain Allah swt dan Nabi selain Nabi Muhammad SAW.
Pemahaman yang sangat keliru tentang islam wetu telu Bayan itu adalah bahwa mereka para penganut wetu telu sebahyang tiga kali bukan 5 (lima) kali dan  Puasa tiga kali dalam sebulan bukan sebulan penuh,mereka orang bayan hanya melaksanakan 3 (tiga) rukun islam saja yang lainya tidak dikerjakan  tidak jelas juga rukun islam mana yang dimaksud, kapan dan siapa yang mempersepsikan pelaksanaan islam yang serba tiga ini kepada publik karena mereka adalah islam dengan puasa sebulan penuh dan sholat lima kali sehari semalam, asumsi yang salah mengenai wettu telu menganggap semua pelaksanaan keagamaan dilaksanakan sebanyak tiga kali ini kemudian sangat menyudutkan masyarakat adat bayan karena dibenturkan dengan ajaran-ajaran islam yang bersifat universal sehiingga dampaknya pada penghakiman publik terhadap orang Bayan sebagai suatu ajaran yang menyimpang dari akidah islam.
Asumsi lain tentang wetu telu juga di tanggapi cukup beragam oleh masyarakat adat Bayan antara lain ada yang memaknai Wetu telu sebagai Wet tau telu yang berarti pembagian peran atau wilayah kekuasaan wet adat,wet agama,wet pemerintahan karena dalam praktek kelembagaan yang ada terdapat kelembagaan yang mengurus masalah keagamaaan atau hubungan vertikal dengan sang pecipta, kelembagaan yang mengurus masalah adat istiadat dan lingkungan dan kelembagaan yang mengurus masalah pemerintahan yaitu hubungan antara manusia dengan mansia atuau hubungan horizontal.
Pemahaman bahwa Wettu telu itu berasal dari wetu telu atau Mettu telu yaitu proses reproduksi mahluk hidup yaitu tioq,mentelok dan menganak atau tumbuh,bertelur dan beranak  yang kemudian beranak pinak menjadi cikal bakal kehidupan alam semesta, pemahaman ini yang sering kita dengar dari kebanyakan masyarakat bayan jawaban inipun tidak salah karena publik biasa ingin mengetahui secara cepat dan yang paling cepat didapatkan informasinya adalah wetu telu dengan pemahaman tersebut.
Para peneliti terus menggiring opini publik dengan membenturkan waktu telu dan Waktu lima (erni budiwanti) seorang peneliti yang berhasil mempertajam kesenjangan antara islam yang sebenarnya tradisional dan islam modern ,berasil mengubah pandangan publik bahwa sebenarnya islam itu dipahami masa setelah kemerdekaan dan pra kemerdekaan pandangannya terhadap islam di Bayan merupakan propaganda yang mengancam keberadaan masyarakat islam tradisional dengan membenturkannya dengan islam yang berkembang setelah kemerdekaan.
Terdapat jeda yang cukup lama antara pembelajaran islam sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan dan tentu ada perbedaan kemudian termasuk didalamnya cara memahami islam, islam diterima kala itu masih asli dengan kondisi ketika pertama diterima belum ada pengaruh dan mobilisasi kemudian dari dunia islam yang lebih besar misalnya dari Arab dan daerah-daerah lain, ini karena Jarak tempuh dan daerah bayan cenderung terisolir sehingga memang perkembangannya cukup lambat dengan tempat-tempat lain termasuk perkembangan islam maka, setelah kemerdekaan kondisinyapun sedikit demi sedikit membuka isolasi terhadap orang bayan ditambah dengan agama yang diakui oleh negara salah satunya islam maka, tolak ukurnya adalah ajaran yang dipahami mayoritas sementara islam tradisional cendrung minoritas karena aspek tradisional cendrung berbenturan dengan aspek modern karena berkembangnya pemikiran manusia saat ini.
jika sebelum kemerdekaan islam di bawa oleh para mubaliq ke bayan tentu dapat disebut islamisasi adalah berdakwah dengan mengajak orang yang belum menerima islam saat itu manjadi masuk islam dan berbeda kemudian jika islam dikembangkan dan diajarkan setelah kemerdekaan kepada orang bayan tentu tidak cocok disebut islamisasi karena mereka sudah mengakui dan menerima islam sebagai agama dan keyakinan orang bayan dan bahkan oleh raja bayan diterima sebagai agama kerajaan, sebagian berpendapat bahwa proses itu bukan islamisasi lagi tetapi lebih disebut arabisasi yaitu seolah menjeneralisir tidak ada yang lebih baik selain datangnya dari arab.  Penjelasan yang tidak tuntas tentang wetu telu oleh  J.Van Ball tersebut dapat dipahami oleh masyarakat Bayan sebagai bukan kesalahan dari satu penelitian tetapi lebih merupakan pembelajaran bahwa suatu penelitian haruslah berkesinambungan sehingga dapat menjelaskan secara utuh objek yang diteliti waktu penelitian dan sumber-sumber yang ditelti terkadang menjadi hambatan dari sebuah penelitian hal ini  tjuga dapat dipahami, Wetu  telu  merupakan sesepen.
MAKNA WETU TELU
Wetu telu sering disebut Sesepen berasal dari kata sesep atau meresap artinya  adalah pengetahuan atau ajaran yang diajarkan sampai tuntas, apabila tidak dipahami dengan baik maka, dapat memunculkan penafsiran negatif yang dapat menjerumuskan seseorang atau suatu kaum. Munculnya stigma selama ini terhadap Suku Bayan tentang wetu telu merupakan pemahaman yang keliru dan tidak tuntas dipahami oleh publik selama ini.
Sesepen sering disebut rahasia karena memang tidak banyak yang dapat memahaminya secara utuh menjadi rahasia  karena  hanya mereka yang siap  dan mempunyai daya pikir yang baik saja diajarkan dan diberikan pemahaman lebih awal sehingga mereka dapat memberikan pemahaman tuntas selanjutnya kepada generasi mendatang.
Sesepen tidak harus diajarkan, rasa keingin tahuan orang akan menggiring mereka kepada makna dari wetu telu itu sendiri dan dengan sendiri pula dapat dipahami dan diresapi masing-masing karena didorong oleh rasa penasaran seseorang. Sesepen ada 2 (dua) ada yang berlaku untuk setiap orang yang layak mengetahuinya ada ajaran yang di turunkan menurut garis prusa atau keturunan seperti mantra-mantra.
Raden Singadria (alm Pemangku) pernah memberikan Snepa (kiasan) wetu telu itu Arak kon dirik ulek ngaro dirik artinya ada pada diri kita dan kembali kepada diri kita suatu kalimat yang mempunyai filosofi yang mendalam membuat semua orang akan penasaran dan tidak berhenti untuk bertanya apakah wetu telu yang ada dan kembali kepada diri kita tersebut. Kiasan tersebut juga adalah nasehat agar kita tetap ingat bahwa kita berasal dari mana dan kembali kemana semasih nyawa  dikandung badan.
Istilah wettu lelu ini muncul bila diamati memang bersamaan dengan berkembangnya islam di Bayan sehingga beberapa pendapat mengatakan bahwa corak islam yang berkembang di Bayan disebut islam wetu telu. Wetu telu itu mungkin merupakan ajaran tasawuf yang terus menerus menggali ajaran al-qur’an sebagai pedoman untuk ilmu pengetahuan termasuk didalamnya belajar tentang hakekat diri manusia.
Memahami wettu telu adalah belajar tentang hakekat diri atau jati diri manusia,  darimana manusia itu berasal dan akan kemana manusia itu akan kembali artinya apa yang ada pada diri manusia saat ini akan kembali kepada darimana ia berasal. Instrumen yang ada pada diri manusia yaitu ruh dan jasad inilah yang bersatu dan ketika jiwa/ruh ini bersatu dengan jasad/raga maka, baru dapat disebut manusia. Jasad terdiri dari tanah,air,api dan angin sementara akan kembali keasalnya yaitu tanah api,air dan angin sementara ruh/jiwa akan kembali kepada sang penciptanya Allah Swt.
Wettu telu berasal atau muncul dari tiga (3) unsur  antara lain (1)unsur Ilahiah berjumlah 5 (lima)  (2)Unsur Adam / ayah berjumlah 4 (empat) dan  3 Unsur hawa/ibu berjumlah 4 (empat) totalnya  keseluruhannya berjumlah 13 (tiga belas) berarti pula rukun 13 (tiga belas) adalah rukun sholat. Lima unsur ilahiah ini akan kembali keasalnya yaitu Allah SWT  dan Empat unsur masing-masing dari ibu dan ayah atau adam dan hawa ini akan kembali ke asalnya yaitu tanah,Air,Api dan Angin, Lima unsur ilahiah ini dikaitkan juga dengan kewajiban menjalankan sholat fardu  5 waktu sebagai suatu cara mendekatkan diri kepada ALLAH Swt.
Assyhadualla Illahaillallah waasyhaduan na muhammadarasullulla. Asyhaduingsunsinuruhi anak sine stoken norani pangeran anging Allah Pageran Kang Sebenere Lan Ingsun Lannuruhe stuhune nabi muhammad utusan dining Allah. Allahumma saliallamuhammadinna waalaalisayidina muhammad.
Lapalan tersebut merupakan syahadat yang diucapkan oleh orang bayan berbeda dengan hapalan dan lapalan  yang kita kenal saat ini, diartikan dalam bahasa Jawa menjelaskan bahwa islam di bayan berasal dari Pulau jawa dan syahadat ini kemudian mengukuhkan keberadaan orang bayan dan wetu telu serta agama di Bayan adalah Agama Islam.
Sehingga kemudian dapat disimpulkan bahwa :
1.    Wetu telu adalah Sesepen adalah sesuatu yang harus diajarkan, dipahami dan diresapi secara tuntas oleh karena itu penting membutuhkan kesiapan dengan kedewasaan pikir yang baik untuk memahaminya sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang keliru.
2.    Wettu telu dipahami sebagai sebuah sistem yang mengatur pembagian tugas yang terlembaga dan pola hubungan antara manusia sebagai mahluk sosial,lingkungan dan sang pecipta Allah SWT.
3.    Wettu telu merupakan jati diri Manusia (orang Bayan) menjelaskan tentang pembentukan diri manusia, unsur-unsur yang ada pada diri manusia dan pada akhirnya akan kembali kepada dari mana Manusia itu berasal kepada yang maha sempurna Allah Swt.

1 komentar: